‘Reiza’, seorang pemimpi besar tepatnya
pemimpi ulung. yang dengan harapan besar dalam dirinya untuk menjadi
seorang pengusaha. Berasal dari sebuah perkampungan dikota garut yang menetap
dibandung karena dalam bayangannya hidup dikota akan cepat menggapai mimpinya.
Orangnya kreatif tapi banyak tingkah, sering menganggap gampang terhadap
sesuatu, gak bisa dandan rapih serapih rapihnya dia kalo dinilai penampilannya
pasti dapat nilai F dan kurang beruntung dalam masalah percintaan. Dia
mengklaim dirinya dengan nama panggilan “rei”.
‘Dora’ seperti nama tokoh kartun dalam serial
televisi (Tau kan?) kalo ga tau mungkin ga punya televisi dirumah ya? :D.
Orangnya ga bisa romantis, berbadan tegap dengan sepatu boots yang setia dia
pakai kemanapun serta motor honda astrea hitamnya. Berasala dari sebuah
perkamungan di kabupaten sumedang. Menetap dibandung karena taubat dari
kebiasaan buruk saat dikampungnya, selalu membuat keributan dengan kampung
sebelah, mabuk mabukan, mencuri ikan di balong
tetangganya dan kelakuan absurd lainnya. Bekerja sebuah cafe gak jauh dari Gasibu.
‘Nesya’ Seorang model cantik mojang bandung
yang masih kuliah di salah satu Universitas ternama dikota bandung. Modis
(Jelas dong, kan model !) tapi gaul dengan siapapun yang dia anggap seru diajak
ngobrol ngawur, dan hoby nongkrong di
Cafe tempat Dora kerja.
‘Hera’ seorang Vokalis band yang kurang
populer, bahkan dilingkungan kampusnya sekalipun.
Seorang
mahasiswa tingkat akhir jurusan Desain Komunikasi Visual tinggal dilingkungan
kost di daerah Dipatiukur yang sering jadi tempat penampungan Reiza, Dora dan
Nesya kalo lagi pada ngumpul sampe malem.
*****
05
Maret 2011
Cuaca di pusat kota bandung yang kurang
bersahabat, setidaknya untuk warga bandung yang terbiasa hidup dengan udara
yang sejuk. Siang itu terasa sangat panas untuk Reiza yang sedang berada
didalam Bis angkutan kota ‘Damri’.
Dan suasana lalu lintas yang sering membuat emosi para pengguna jalan serta
memaki para pejabat yang mereka anggap tidak pernah serius mengatasi
kesemrawutan lalu lintas dalam kota.
Reiza
bermaksud pergi ke tempat Dora dan teman temannya ngumpul di Cafe tempat Dora
kerja, Hal yang sudah hampir menjadi rutinitas setiap malam jum’at. Biasanya
untuk kebanyakan orang rutnitas ngumpul adalah malam minggu, tapi bagi mereka
malam jum’at adalah waktu yang tepat untuk ngumpul. Reiza tengah duduk dibangku
paling belakang sering mengamati setiap orang yang berada dalam bis itu ( Hanya
pada wanita ), dan pusat perhatiannya adalah seorang wanita dengan rambut ikal
sebahu, mengenakan assesoris yang terlihat sangat pas dipakai olehnya. Bibirnya
tipis dengan lipstik pink nya cukup untuk membuat Reiza melamun sampai paris
dan tak henti hentinya berdecak kekaguman.
‘Gue
bakal ceritain sama anak anak soal ini’. Gumamnya.
Dora,
yang sibuk dengan gelas dan piring pesanan yang harus dia bawa kemeja
pemesannya, siang itu terlihat ceria ditengah kesibukannya melayani tamu yang
datang dicafe itu, sedikit bercanda dengan pelanggan setia yang rutin datang
tiap hari untuk makan siang atau sekedar santai sambil menikmati kopi yang menjadi andalan di cafe
tempat dora kerja. Setelah meletakan piring dan gelas kotor didapur Dora
menyempatkan diri membuka pesan singkat di HP jadulnya.
‘udah ada yang dateng?’ Nesya
yang mengirimkan pesan karena dia yang akan paling terakhir datang ke cafe.
‘belom seekorpun, coba tanyain masih pada dimana?’.
‘Enak aja lo nyuruh gue, berharga banget pulsa gue dipake
sms mereka.’
‘Yaelah, ya udah tar gue sms lo kalo kunyuk kunyuk udah
nongol’. Lalu Dora kembali mengantarkan pesanan.
Hera, yang baru sadar dari tidur malasnya,
langsung meraih handphone dengan 3
panggilan tak terjawab terlihat dilayar hp nya.
‘Kunyuk,
ngapain nelpon banyak banyak kayak ada urusan penting’. Lalu diapun nelpon
balik ke no yang memanggilnya.
‘Halo..’
apa lo nelpon gue, tadi gue tidur’
‘Heh, bangke. tar gue mau ke kost an lo dulu
sebelum ke cafe.’ Jawab Reiza yang masih dalam bis.
‘Oooh,
ya udah. Lo baru nyampe mana?’
‘Bentar
lagi nyampe, udah di simpang dago. Ada kopi ga disana?’
‘Ga
ada, Lo beli geh sambil jalan kesini’
‘Ah
males, luntur nafsu gue minum kopi’.
‘Kelakuan
lu..’. jawab hera sambil menutup telponnya dan bergegas mandi.
Nesya, Nonkrong dibalkon rumah yang sedang
asik BBM’an dengan teman fotograper yang menawari nya untuk hunting foto hari
minggu, membicarakan konsep, lokasi dan
waktu pemotretanya.
‘Heh
!!!’. tiba tiba adiknya datang dan membuat dia kaget.
‘Asik
sendiri aja si teteh’.
‘Dinaaaaa...
Kalo teteh jatoh kebawah gimana??’ Nesya setengah berteriak dan kaget.
‘Ada
apa?’
‘Hehehe.. kan ga jatoh. Teh pinjem uang dulu dong, buat
beli bakso di depan’.
‘Heeuuh.. dasar kamu, mamah kemana? ‘
‘Tadi
pergi, katanya mau jenguk bu ade’.
‘oooh
ya udah, ambil di saku jaket item teteh, sepuluh ribu, jangan lebih’.
‘Iyaa..
‘ lalu Dina pun setengah lari ke kamar Nesya.
“Gerah
banget hari ini, Sumpah.” Nesya pun bermaksud langsung mandi dan siap siap
pergi ke cafe.
******
“Kopi
progo jam 3 sore”
Dora, yang jam kerjannya sudah selesai.
Duduk di tempat peristirahatan karyawan, dengan santai menghisap rokok sambil
menunggu teman temannya.
‘Kunyuk
pada jadi kesini gak sih’. Dumel nya sambil meraih hp di kantong celananya..
Sms
pun masuk dari Reiza. “Bebh, Gue udah di
depan sama yayang Hera”. Nah, ini
dia kunyuk. Dora pun menghampiri mereka.
‘Si
Putri kemayungan belom kesini?’. Tanya Reiza
‘Belom,
Katanya gue suruh sms dia kalo lo udah pada dateng, barusan udah gue sms’.
Jawab Dora sambil menggiring Reiza dan Hera ke tempat yang kosong.
‘Kok
disini sih, ga ditempat biasa’. Protes Hera.
‘Lu ga
liat apa udah ada yang ngisi’. Dora menjawab
‘Kayaknya
ada yang envy sama kita deh sekarang,
Nempatin tempat kita kamis sore ini’. Reiza ngomong sekenanya.
‘Bukan
envy, emang kebetulan aja kali ada yang nempatin. Emang ini cafe eyang lo?.’
Dora mendebat.
‘nunggu
dulu si Nesya apa kita pesen duluan nih?’ Kata Reiza kayak Kebo kehausan,
karena di kost an Hera ga dapet kopi.
‘Nunggu
dulu aja, sambil gue ganti baju dulu’. Jawab Dora yang masih mengenakan baju
kerjanya.
Sore itu memang lebih ramai dari biasanya,
meski tidak terlalu banyak kendaraan yang melintas di depan cafe itu. Karena memang
bukan jalan raya yang biasa dilewati banyak kendaraan, hanya banyak cafe yang
berjejer sepanjang Jl. Progo setelah studio photo yang terbesar dan paling
familiar bagi penduduk dikota bandung. Wajar jika banyak sekali mobil yang
parkir disepanjang jalan.
‘Sore yang hangat, cuaca yang indah, sore yang romantis
jika mengahabiskan waktu berdua dengan pasangan, apalagi dengan wanita di bis
tadi. Ooowhhh..’ Gumam Reiza dalam lamunannya masih
teringat wanita yang satu bis tadi.
Tiga puluh menit
berlalu dengan kesibukan masing masing, Reiza dengan lamunannya, Hera dengan HP
nya, dan Nesya pun datang seraya mengagetkan mereka dengan mendorong kepala
mereka dari belakang. ‘Wooyy.. pada nungguin bidadari ya? Nih gue udah dateng..
hehehe...’
‘mana bidadari?
Mana.. mana..? Ini ?! Ini sih bidadari
bau ketek’. Reiza sewot.
‘beuuh, gue yang
paling cantik gini disini’. Jawab Nesya seraya duduk diantara mereka
‘Kapan sih Sya, Lo
ga dorong pala gue kalo ketemu?’.
‘Karena gue ngerasa
pantes Ra, buat dorong pala kalian. Hahaha.. ‘
‘Kampreeeeet...!!’
Reiza dan Hera melemparkan benda terdekat ke Nesya
‘SssssSttt.. anak
anak, jangan pada ribut ya, ada yg lagi sakit gigi’. Dora pun datang dan
bergabung sama mereka.
Rutinitas merekapun dimulai, saling bertukar
cerita selama mereka ga ketemu. Tidak sedikit pengunjung yang memperhatikan
mereka karena kegaduhan mereka, hanya saja mereka cuek, seakan mereka sedang
berada dikandang sendiri.
Reiza yang
menceritakan wanita yang satu bis dengannya waktu berangkat, mendapat apresiasi
lemparan tisue bekas dari teman temannya.
‘Eh, Sya... Buat
naklukin cewek cantik gimana sih?’
Dengan agak sewot
Nesya menjawab. ‘Mobil bagus, apartemen bagus, penampilan bagus, dompet juga
bagus. Kalo tampang dan keadaan lo sekarang pasti diapresiasi ludah sama cewek.
Hahaha’.
‘Tragis’. Hera
menambahkan
‘Sungguh
terlaluuu...’. Dora menimpali seraya melempar kentang ke muka Reiza
Reizapun memasang
muka memelas seperti seorang anak kecil ketauan nyolong.
Persahabatan banyak mempunyai arti dalam
hidup, begitu juga yang mereka rasakan selama mereka sering ngumpul bareng.
Sebagai mahluk sosial, sebagai manusia normal seperti yang lainnya yang selalu
butuh keberadaan yang lain. Bersosialisasi bukan berarti hanya punya
teman, tapi juga punya musuh. Mahluk sempurna didunia inipun pasti punya musuh,
karena ga semua manusia sepemikiran. Ada yang benar ada yang salah, mungkin sudah
jadi hal yang lumrah dan pasti ada.
Setelah menjalani rutinitas ngumpul, mereka
berpisah di cafe. Dan ada satu kesepakatan yang mereka buat, bahwa semua harus
langsung berpisah, langsung menuju rumah masing masing, pulangnya pun harus
masing masing, tidak ada acara nebeng menebeng jika tidak darurat, kecuali jika
mereka melanjutkan lagi acara ngumpulnya di kosan Hera, pasti semuanya nebeng
dimobilnya Nesya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar