Jumat, 11 Januari 2013

Sabtu, 7 Maret 2011



Biru itu keindahan
Biru itu kehidupan
Biru itu harapan
Biru itu tujuan
Biru itu…  Kamu.

  Dibawah langit biru dihari yang cerah, telihat seseorang dengan baju biru baru keluar dari sebuah mall berjalan mendekati pelataran parkir menemui seorang lelaki yang daritadi sudah menunggunya.

‘Hai, tambah cantik aja nih, nyalon terus lo, key?’
‘ah kamu bisa aja, maaf ya agak lama nunggunya’.
‘ga apa apa, santai aja.. setaun disinipun gue rela ko Key’.
‘huuuh, gombalnya tetep aja ya kamu Rei’.’
‘langsung cabut yu Key, gue mau ngajak lo ke suatu tempat’.
‘Yuk.. Cusss… ‘


  Keyla, teman Reiza dari kota Samarinda. Reiza kenal saat dia berkunjung ke kota Bandung untuk pertama kalinya dengan tujuan wisata. Reiza bertemu dengan Keyla di salah satu tempat wisata di daerah lembang.   Seja saat itu mereka sering komunikasi ,baik hanya sekedar ngobrol biasa sampai bertukar cerita tentang kehidupan mereka. Bagi Keyla, Reiza adalah orang yang paling nyaman untuk diajak ngobrol, selain pendapatnya yang Keyla anggap selalu buat dia nyaman saat dia ada masalah Reiza juga seorang yang selalu bisa bikin dia tertawa, Baik karena tingkah konyolnya, atau karena cerita anehnya.
Sejak saat itu, Keyla jadi sering mengunjungi kota Bandung atau tepatnya mengunjungi Reiza saat libur kerja. Sering kali Keyla mengajak Reiza untuk ke Samarinda, tapi Reiza selalu bilang belum bisa kalo sekarang. Dibalik kata itu Keyla seperti mengerti apa maksud Reiza dan selalu memakluminya. Didalam hati yang terdalam, sebenarnya Keyla menyimpan perasaan dan harapan yang sangat besar kepada Reiza,meski bagaimanapun keadaan Reiza. Dia merasa bahwa Reiza yang akan selalu membuat dia nyaman, Dia yakin bahwa Reiza bisa jadi yang terbaik untuknya bahkan untuk jadi pendamping selama hidupnya. 3 tahun dia mengenal Reiza belum pernah Ia merasa kecewa terhadap Reiza. Tapi dia menyimpan rapih perasaan itu, biralah semua berjalan seadanya Reiza sebagai teman terbaiknya.
  Didalam mobil yang sengaja Keyla sewa selama dia berada di bandung, dikemudikan Reiza yang sangat asik menikmati lagu yang dia putar. Sore itu, banyak sekali orang berduaan  yang mereka temui di sepanjang jalan menuju daerah punclut. Reiza mengajak Keyla ke suatu tempat yang sering dia kunjungi saat ia merasa jenuh dan saat dia ingin menyendiri.

‘Eh Rei, Kita sebenernya mau kemana sih? Ko jalannya naik gini sih, agak sepi juga.’ Keyla yang baru menyadari kalau jalan yang mereka lewati bukan jalan yang ramai dilewati kendaraan. 
‘Tenang aja key, gue ga bakal apa apain lo ko.. ‘ jawab Reiza sambil tersenyum.
‘Bukan takut diapa apain sih sebenernya, Cuma mau tau aja kemana tujuan kita, sebelumnya kan kita gak pernah kesini Rei.’
‘Ya ada deeh, tar juga tau.  Kalo gue kasih tau sekarang, gue bilang tempatnya bagus, tar lo ga suka. Kalo gue bilang tempatnya biasa aja, tar lo malah ga mau. Jadi liat nanti aja kalo udah nyampe. Hehehe’
‘Iya deeh iya..’ jawab Keyla sambil melihat keluar jendela melihat kota bandung dari ketinggian.
‘Kemanapun itu Rei, asalkan sama kamu’. Batinnya.
Mobilpun berbelok di pelataran diatas tebing.
‘Turun bentar yuk’. Reiza mengajak Keyla sambil keluar dari mobil.
‘Waaah, Lumayan enak juga ya Rei pemandangan disini’.
‘Ya, Lumayan’. Jawab Reiza sambil menyalakan Rokoknya.
‘Kamu sering kesini Rei?’
‘Ga terlalu sering juga Key, kalo lagi jenuh aja keliling disana’. Sambil menunjuk gedung berjejer yang terlihat dari ketinggian.
‘Disini bagus loh key kalo lihatnya malem, apalagi kalo tahun baru, bandung jadi lautan kembang api’.
‘Oya, Waaah..  indah banget pasti yaa, Tahun baru nanti kesini deh kalo gitu’.
‘bisa aja key, ga terlalu buruk ko tahun baruan disini’. 
Sambil menghisap rokoknya Reiza pun menceritakan pengalaman tahun baru yang ia lewati ditempat itu. Jalanan yang macet, berdesakan dengan ratusan atau mungkin ribuan orang yang ingin menikmati pemandangan yang sama denganya ditempat itu.
Buat keyla, inilah saat saat terbaik baginya. Berada didekat Reiza dan mendengarkan ceritanya adalah kebahagiaan tersendiri untuknya. Saat Reiza bercerita, Keyla merasa dia sedang mendengarkan seorang penyiar radio yang sedang membawakan acara. Gaya bahasa dan intonasi suara Reiza selalu enak  didengar buat Keyla. Tersenyum manis, adalah cara dia mengagumi Reiza, Hanya itu yang bisa dia lakukan sampai saat itu.

Kurang lebih 30 menit mereka disana, melihat pemandangan kota bandung dari ketinggian dan bercanda, Udara yang mulai terasa lebih dingin Reizapun merasa Stok rokoknya hampir habis dan mengiginkan kopi hangat, Mengajak Keyla naik lagi ke mobil dan membawa ketempat tujuan yang sebelumnya sudah direncakan.

‘Naaah, disini key kita bakal ngabisin malam, Hehehe’. Reiza pun memangkirkan mobilnya disebuah warung.
‘Disini, Rey ??’. Dalam hatinya Keyla kaget, kenapa disini? Diwarung kopi yang ga terlalu bagus.
‘Iya, Disini. Ga suka? Kedalem aja dulu Yuk.. 


Warung yang Reiza kunjungi memang terlihat kumuh jika dilihat dari luar, tapi menurut Reiza tempat itu menarik. Suasana didalamnya terkesan klasik, dibentuk seperti ruangan ruangan kecil, ada meja yang terbuat dari kayu, dinding pemisahnyapun dari kayu, tapi tidak menutup tiap ruangan hanya lebih seperti pemisah saja. Batang kayu seukurang pergelangan tangan, bentuknya tidak lurus, ada banyak benjolan benjolan kecil tapi sudah dicat dan dipernis, terlihat bagus dan memantulkan cahaya lampu, yang disilang silang sedemikian rupa sehingga terlihat menarik. Lampu yang digunakanpun adalah lampu lampu kecil 5 Watt, yang sengaja  tidak dipasang di tiap ruangan menimbulkan bayangan bayangan yang menarik dan terkesan romantis.


‘Dipojok sana yuk, key. Disana paling romantis, hehe’. Mereka pun duduk.
‘mmmm, Ternyata lumayan juga ya disini Rei, romantis.’ Dengan senyumnya yang khas Keyla memandang berkeliling.
‘Gimana, suka tempatnya?’  Reiza pun berlagak centil memampang muka nya.
‘Ya yaya..  ga buruk ko tempatnya rei’
‘oya, mau pesan apa? Tapi disini ga ada makanan berat, jadi kalo lo laper cuma bisa pesan mie rebus.’
‘mmm apa yaa..  dingin sih, caapucino aja sama cemilah yang renyah renyah Rei’
‘siap laksanakan nona’. Sambil tersenyum Reiza pun pergi untuk memesan.
Suhu yang dingin member efek yang kurang baik buat Reiza, sebelum memesan dia pun meminta izin untuk ke toilet. Reiza sering buang air kecil saat dia kedinginan. Sepulangnya dari toilet dia pun langsung menyapa teteh penjaga warung yang sedang membuat kopi pesanan pengunjung.
‘damang teh?’.
‘Eeeh, Damang. Kamana wae atuh? Taah, kitu atuh. Kadieu teh candak istri na’
‘aaah, aya wae teh, hehehe.. teh pesen kapucino 2, dudukna di ujung. Sarenga nyandak ieu teh’. Reiza pun memperlihatkan cemilan yang dia bawa.
Ooh, siap siap..’

Seringnya Reiza mengunjungi tempat itu, jadi angkrab dengan pemilik warung. Setiap mengunjungi tempat itu sebelumnya, Reiza selalu datang sendiri. Duduk dipojokan yang sekarang dia dan Keyla tempati. Sering berlama lama diwarung itu hanya untuk menyendiri, terkadang sampai larut malam.


‘disini dingin banget  key, kuat ga lama lama disini?’
‘mmm, iya sih..  kita lihat aja nanti’
‘ada sih disini penghangat, tapi ga bisa dipake, hehe..’
‘oya, apa, dan kenapa Rei?
‘ini penghangatnya lagi ngomong’. Sambil nyengir dan Nunjuk hidungnya
‘Kenapa ga bisa dipake?’ Keyla memberanikan diri bertanya seperti itu.
‘Emang mau key? Pake penghangat yang bau? Hahaha’
‘aah, kamuu..’ . Kata yang diucapkan Keyla, tidak sama dengan apa yang dia ucapkan didalam hatinya.
‘aku ngerti maksudmu Rei, tapi kenapa gak bisa dipakai? Aku mau banget ko. Atau kamu emang gak mau?’ Gumamnya.
‘eh, kamu kayaknya udah akrab Rei, sama pemilik warung’. Keyla bertanya untuk menyembunyikan perasaannya.
‘ya iya dongss.. siapa lagi yang suka lama lama duduk dipojokan sini selain gue key, hehehe’.
‘Woalaaah, sebenernya ngapain aja kamu lama lama disini?’
‘gak ngapa ngapain Key, Duduk aja nikmatin kopi’
‘ga mungkin dong lama lama Rei, ngabisin berapa drum emang kopinya? Karena galau ya? Hehehe’
‘hahaha, ya kurang lebih begitu Key.’

Ditengah obrolan mereka, pesanan kapucino pun datang, menambah kehangatan mereka. Obrolan mereka pun berlanjut sampai jam sembilan malam, saat suhu mulai terasa tambah dingin, Keyla pun mengajak Reiza pulang. Keyla belum terbiasa dengan suhu dingin seperti di punclut, meskipun sering ke bandung, tapi disana suhu udaranya berbeda dengan dikota karena disamarinda tempat tinggalnya udaranya panas. Reiza pun mengatar Keyla ke hotel tempat dia menginap yang tidak terlalu jauh dari rumah tempat tinggalnya di bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar