Biru
itu keindahan
Biru
itu kehidupan
Biru
itu harapan
Biru
itu tujuan
Biru
itu… Kamu.
Dibawah langit
biru dihari yang cerah, telihat seseorang dengan baju biru baru keluar dari
sebuah mall berjalan mendekati pelataran parkir menemui seorang lelaki yang
daritadi sudah menunggunya.
‘Hai, tambah cantik aja nih, nyalon terus
lo, key?’
‘ah kamu bisa aja, maaf ya agak lama
nunggunya’.
‘ga apa apa, santai aja.. setaun disinipun
gue rela ko Key’.
‘huuuh, gombalnya tetep aja ya kamu Rei’.’
‘langsung cabut yu Key, gue mau ngajak lo
ke suatu tempat’.
‘Yuk.. Cusss… ‘
Keyla, teman Reiza dari kota Samarinda. Reiza kenal saat dia berkunjung
ke kota Bandung untuk pertama kalinya dengan tujuan wisata. Reiza bertemu
dengan Keyla di salah satu tempat wisata di daerah lembang. Seja saat itu mereka sering komunikasi ,baik
hanya sekedar ngobrol biasa sampai bertukar cerita tentang kehidupan mereka.
Bagi Keyla, Reiza adalah orang yang paling nyaman untuk diajak ngobrol, selain
pendapatnya yang Keyla anggap selalu buat dia nyaman saat dia ada masalah Reiza
juga seorang yang selalu bisa bikin dia tertawa, Baik karena tingkah konyolnya,
atau karena cerita anehnya.
Sejak saat itu, Keyla jadi sering
mengunjungi kota Bandung atau tepatnya mengunjungi Reiza saat libur kerja. Sering
kali Keyla mengajak Reiza untuk ke Samarinda, tapi Reiza selalu bilang belum
bisa kalo sekarang. Dibalik kata itu Keyla seperti mengerti apa maksud Reiza
dan selalu memakluminya. Didalam hati yang terdalam, sebenarnya Keyla menyimpan
perasaan dan harapan yang sangat besar kepada Reiza,meski bagaimanapun keadaan
Reiza. Dia merasa bahwa Reiza yang akan selalu membuat dia nyaman, Dia yakin
bahwa Reiza bisa jadi yang terbaik untuknya bahkan untuk jadi pendamping selama
hidupnya. 3 tahun dia mengenal Reiza belum pernah Ia merasa kecewa terhadap
Reiza. Tapi dia menyimpan rapih perasaan itu, biralah semua berjalan seadanya
Reiza sebagai teman terbaiknya.
Didalam mobil yang sengaja Keyla sewa selama dia berada di bandung,
dikemudikan Reiza yang sangat asik menikmati lagu yang dia putar. Sore itu,
banyak sekali orang berduaan yang mereka
temui di sepanjang jalan menuju daerah punclut. Reiza mengajak Keyla ke suatu
tempat yang sering dia kunjungi saat ia merasa jenuh dan saat dia ingin
menyendiri.
‘Eh Rei, Kita sebenernya mau kemana sih? Ko
jalannya naik gini sih, agak sepi juga.’ Keyla yang baru menyadari kalau jalan
yang mereka lewati bukan jalan yang ramai dilewati kendaraan.
‘Tenang aja key, gue ga bakal apa apain lo
ko.. ‘ jawab Reiza sambil tersenyum.
‘Bukan takut diapa apain sih sebenernya,
Cuma mau tau aja kemana tujuan kita, sebelumnya kan kita gak pernah kesini
Rei.’
‘Ya ada deeh, tar juga tau. Kalo gue kasih tau sekarang, gue bilang
tempatnya bagus, tar lo ga suka. Kalo gue bilang tempatnya biasa aja, tar lo
malah ga mau. Jadi liat nanti aja kalo udah nyampe. Hehehe’
‘Iya deeh iya..’ jawab Keyla sambil melihat
keluar jendela melihat kota bandung dari ketinggian.
‘Kemanapun
itu Rei, asalkan sama kamu’. Batinnya.
Mobilpun berbelok di pelataran diatas tebing.
‘Turun bentar yuk’. Reiza mengajak Keyla
sambil keluar dari mobil.
‘Waaah, Lumayan enak juga ya Rei
pemandangan disini’.
‘Ya, Lumayan’. Jawab Reiza sambil
menyalakan Rokoknya.
‘Kamu sering kesini Rei?’
‘Ga terlalu sering juga Key, kalo lagi
jenuh aja keliling disana’. Sambil menunjuk gedung berjejer yang terlihat dari
ketinggian.
‘Disini bagus loh key kalo lihatnya malem,
apalagi kalo tahun baru, bandung jadi lautan kembang api’.
‘Oya, Waaah.. indah banget pasti yaa, Tahun baru nanti
kesini deh kalo gitu’.
‘bisa aja key, ga terlalu buruk ko tahun
baruan disini’.
Sambil menghisap rokoknya Reiza pun menceritakan pengalaman
tahun baru yang ia lewati ditempat itu. Jalanan yang macet, berdesakan dengan
ratusan atau mungkin ribuan orang yang ingin menikmati pemandangan yang sama
denganya ditempat itu.
Buat keyla, inilah saat saat terbaik
baginya. Berada didekat Reiza dan mendengarkan ceritanya adalah kebahagiaan
tersendiri untuknya. Saat Reiza bercerita, Keyla merasa dia sedang mendengarkan
seorang penyiar radio yang sedang membawakan acara. Gaya bahasa dan intonasi
suara Reiza selalu enak didengar buat
Keyla. Tersenyum manis, adalah cara dia mengagumi Reiza, Hanya itu yang bisa
dia lakukan sampai saat itu.
Kurang lebih 30 menit mereka disana,
melihat pemandangan kota bandung dari ketinggian dan bercanda, Udara yang mulai
terasa lebih dingin Reizapun merasa Stok rokoknya hampir habis dan mengiginkan
kopi hangat, Mengajak Keyla naik lagi ke mobil dan membawa ketempat tujuan yang
sebelumnya sudah direncakan.
‘Naaah, disini key kita bakal ngabisin
malam, Hehehe’. Reiza pun memangkirkan mobilnya disebuah warung.
‘Disini, Rey ??’. Dalam hatinya Keyla
kaget, kenapa disini? Diwarung kopi yang
ga terlalu bagus.
‘Iya, Disini. Ga suka? Kedalem aja dulu
Yuk..
Warung yang Reiza kunjungi memang terlihat
kumuh jika dilihat dari luar, tapi menurut Reiza tempat itu menarik. Suasana
didalamnya terkesan klasik, dibentuk seperti ruangan ruangan kecil, ada meja
yang terbuat dari kayu, dinding pemisahnyapun dari kayu, tapi tidak menutup
tiap ruangan hanya lebih seperti pemisah saja. Batang kayu seukurang
pergelangan tangan, bentuknya tidak lurus, ada banyak benjolan benjolan kecil
tapi sudah dicat dan dipernis, terlihat bagus dan memantulkan cahaya lampu,
yang disilang silang sedemikian rupa sehingga terlihat menarik. Lampu yang
digunakanpun adalah lampu lampu kecil 5 Watt, yang sengaja tidak dipasang di tiap ruangan menimbulkan
bayangan bayangan yang menarik dan terkesan romantis.
‘Dipojok sana yuk, key. Disana paling
romantis, hehe’. Mereka pun duduk.
‘mmmm, Ternyata lumayan juga ya disini Rei,
romantis.’ Dengan senyumnya yang khas Keyla memandang berkeliling.
‘Gimana, suka tempatnya?’ Reiza pun berlagak centil memampang muka nya.
‘Ya yaya..
ga buruk ko tempatnya rei’
‘oya, mau pesan apa? Tapi disini ga ada
makanan berat, jadi kalo lo laper cuma bisa pesan mie rebus.’
‘mmm apa yaa.. dingin sih, caapucino aja sama cemilah yang
renyah renyah Rei’
‘siap laksanakan nona’. Sambil tersenyum
Reiza pun pergi untuk memesan.
Suhu yang dingin member efek yang kurang
baik buat Reiza, sebelum memesan dia pun meminta izin untuk ke toilet. Reiza
sering buang air kecil saat dia kedinginan. Sepulangnya dari toilet dia pun
langsung menyapa teteh penjaga warung yang sedang membuat kopi pesanan pengunjung.
‘damang
teh?’.
‘Eeeh,
Damang. Kamana wae atuh? Taah, kitu atuh. Kadieu teh candak istri na’
‘aaah,
aya wae teh, hehehe.. teh pesen kapucino 2, dudukna di ujung. Sarenga nyandak
ieu teh’. Reiza pun memperlihatkan cemilan yang dia
bawa.
Ooh, siap siap..’
Seringnya Reiza mengunjungi tempat itu,
jadi angkrab dengan pemilik warung. Setiap mengunjungi tempat itu sebelumnya,
Reiza selalu datang sendiri. Duduk dipojokan yang sekarang dia dan Keyla
tempati. Sering berlama lama diwarung itu hanya untuk menyendiri, terkadang
sampai larut malam.
‘disini dingin banget key, kuat ga lama lama disini?’
‘mmm, iya sih.. kita lihat aja nanti’
‘ada sih disini penghangat, tapi ga bisa
dipake, hehe..’
‘oya, apa, dan kenapa Rei?
‘ini penghangatnya lagi ngomong’. Sambil
nyengir dan Nunjuk hidungnya
‘Kenapa ga bisa dipake?’ Keyla memberanikan
diri bertanya seperti itu.
‘Emang mau key? Pake penghangat yang bau?
Hahaha’
‘aah, kamuu..’ . Kata yang diucapkan Keyla,
tidak sama dengan apa yang dia ucapkan didalam hatinya.
‘aku
ngerti maksudmu Rei, tapi kenapa gak bisa dipakai? Aku mau banget ko. Atau kamu
emang gak mau?’ Gumamnya.
‘eh, kamu kayaknya udah akrab Rei, sama
pemilik warung’. Keyla bertanya untuk menyembunyikan perasaannya.
‘ya iya dongss.. siapa lagi yang suka lama
lama duduk dipojokan sini selain gue key, hehehe’.
‘Woalaaah, sebenernya ngapain aja kamu lama
lama disini?’
‘gak ngapa ngapain Key, Duduk aja nikmatin
kopi’
‘ga mungkin dong lama lama Rei, ngabisin
berapa drum emang kopinya? Karena galau ya? Hehehe’
‘hahaha, ya kurang lebih begitu Key.’
Ditengah obrolan mereka, pesanan kapucino
pun datang, menambah kehangatan mereka. Obrolan mereka pun berlanjut sampai jam
sembilan malam, saat suhu mulai terasa tambah dingin, Keyla pun mengajak Reiza
pulang. Keyla belum terbiasa dengan suhu dingin seperti di punclut, meskipun
sering ke bandung, tapi disana suhu udaranya berbeda dengan dikota karena
disamarinda tempat tinggalnya udaranya panas. Reiza pun mengatar Keyla ke hotel
tempat dia menginap yang tidak terlalu jauh dari rumah tempat tinggalnya di
bandung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar